Wednesday, January 28, 2009
Penerjemah ≠ kamus berjalan
Dan gw sudah keburu kesal kepingin nimpuk (dikarenakan a) seenaknya saja menilai sesuatu yang tidak diketahuinya dan b) bukan dia yang bayar tagihan spidi gw kok dia repot) sehingga malas menjelaskan pada dia. Karena itu dijelaskan di sini saja deh.
Penerjemah tidak sama dengan kamus berjalan.
Seorang penerjemah memang harus bisa berbahasa yang jadi keahliannya (dalam kasus gw B.Inggris), dan seorang penerjemah harus bisa membawa perasaan tulisan yang diterjemahkannya agar sebisa mungkin orang yang membaca versi terjemahannya mendapat pengalaman dan perasaan yang sama seperti membaca versi aslinya. Seorang penerjemah harus bisa menyesuaikan kata-kata yang dipilihnya dengan jenis bahan terjemahannya. Misalnya menerjemahkan laporan, harus memilih kata-kata yang baku dan jelas, berbeda dengan menerjemahkan fiksi.
Tapi bukan berarti hapal setiap kata. Bahkan pembuat kamus Oxford pun tidak tahu setiap kata dalam bahasa Inggris yang kemudian dicantumkan dalam bukunya (Baca The Professor and The Madman karya Simon Winchester), dia harus melihat referensi terlebih dahulu, salah satu tujuannya adalah meminimalisir kesalahan.
Penerjemah yang tidak pernah melihat kamus terkadang malah membuat banyak kesalahan karena terlalu yakin. Padahal dalam pekerjaan semacam ini, harus hati-hati sekali karena bisa menimbulkan arti yang berbeda (bukankah begitu Pak Pandu, :D).
Tuesday, January 27, 2009
Looking at The World From The Bottom of a Well
Alasannya begini, bayangkan saja berbaring di dasar sumur dan memandang ke atas. Mungkin cukup nyaman juga di dasar sumur, tidak terkena terik panas matahari, tidak harus berurusan dengan hal-hal menyebalkan seperti salesman yang kelewat gigih dan tagihan telepon yang membengkak. Dari dasar sumur kita bisa melihat ke luar. Mungkin sedikit bagian dari langit terlihat, daun-daun dari pohon di sebelah sumur juga mungkin terlihat sedikit.
Tapi hanya itu saja. Mungkin ada kucing lucu sedang tidur bersandar pada pagar sumur, tapi tak bisa kita lihat. Mungkin ada bunga mekar nan indah di pangkal pohon, tak bisa kita lihat. Mungkin saja ada seseorang yang sedang mencari kita tapi tidak bisa kita lihat karena kita sedang berbaring di dasar sumur.
Memandang dunia dari dasar sumur itu berarti hanya memandang sebagian dari tempat yang jauh. Tidak terlibat, tidak mau mengetahui lebih banyak. Terkadang sikap seperti itu ada bagusnya, hanya tidak bisa terus-terusan dipertahankan.
Karena itu mari kita mulai memanjat dinding sumur, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di atas sana, tapi pastinya jauh lebih baik daripada sekedar berbaring di dasar sumur.
Sunday, January 25, 2009
Nama
Sebelum ini saya selalu senang (bahkan menjurus ke sombong dikit...) karena jarang banget nemu orang dengan nama yang sama. mirip-mirip dikit ada lah, tapi yang sama persis ga pernah nemu.
Eh, tiba-tiba ada artis baru yang namanya sama persis dan juga asal Bogor. Duh... bikin sebel aja, mending juga dia bersuara bagus seperti Uthe gitu. Udah gitu kalau googling nama itu sekarang, banyaknya masuk ke situs foto artis bugil. Uh! serasa tercemar deh nama yang telah disandang selama lebih dari 25 tahun ini.
Yah, Shakespeare memang bilang 'Apalah artinya nama?', tapi berhubung saya bukan penggemar berat Shakespeare (hanya suka saja), omongannya nggak gitu masuk ke hati. hehehee...
Jadi, intinya tulisan ini apa yah? (maap otak lagi mumet sama 2 terjemahan jadi nggak ada ruang lagi) Sebenarnya cuma mau curhat aja, habis googling nama sendiri dan muncul alamat-alamat menyebalkan itu. untung masih ada beberapa alamat yang memang berkaitan dengan diri sendiri, dan untungnya bukan hal yang menyebalkan. :D
Friday, September 5, 2008
Second Front (Medan Tempur Kedua)

Dalam kesempatan ini, gw memutuskan untuk berbahasa Indonesia. Mengapa? Karena pekerjaan gw adalah mem-bahasa Indonesia-kan buku ini. Medan Tempur Kedua oleh Ken Conboy yang karyanya telah menjadi semacam kamus bagi orang yang pekerjaannya terkait dengan spionase, terorisme, militer, dsj.
Sejujurnya ini bukan jenis buku yang lazim gw baca. Gw bukan penggemar literature spionase dan terorisme (kecuali Jason Bourne :D). Tapi ternyata selama menerjemahkannya, gw menemukan kisah ini sangat menarik. Kenapa? Karena ini nyata. Ini merupakan bagian dari sejarah Indonesia yang penuh dengan rahasia dan misteri.
Buku ini menceritakan sepak terjang Jemaah Islamiyah mulai dari kelahirannya di Desa Ngruki, pengasingan kedua pendirinya di Malaysia, hingga aksi-aksi pemboman yang mereka lakukan di Medan, Bali, dan Jakarta, serta kaitan mereka dengan Al-Qaeda.
Nama-nama seperti Abu Bakar Baasyir, Hambali, Dr. Azhari merupakan nama yang akan sering ditemui di dalam buku ini. Dan tidak hanya sekedar menyajikan fakta belaka, Ken Conboy (yang senang mempersulit hidupku dengan menggunakan analogi dan istilah aneh) menceritakan latar belakang orang-orang tersebut yang mendorong mereka bergabung ke dalam Jemaah Islamiyah. Misalnya Dr. Azhari yang dulunya tukang main saat masih sekolah di Australia, yang kemudian bergabung dengan JI setelah istrinya sakit parah.
Menurut gw, kita sebagai warga Indonesia perlu untuk lebih memahami sejarah dan apa yang sesungguhnya terjadi di Indonesia. Ironis sekali orang yang menulis sejarah kita berasal dari luar negeri. Tapi terlepas dari asal sang sumber, sebuah buku berisi pengetahuan selalu pantas untuk dibaca. Meski tidak lupa untuk menelaahnya sendiri saat selesai membaca nanti...
Medan Tempur Kedua. 2008. Ken Conboy. Alih bahasa: Syahrini Dyah N. Jakarta: Pustaka Primatama.
Friday, August 29, 2008
Hari ini
Sepupuku meninggal.
Aku berasal dari keluarga kecil, hanya empat orang (+ satu kucing). Tapi karena orangtua dari keluarga besar, sepupuku banyak sekali. Ketika sedang niat menghitung, aku dan sepupuku dari pihak ibu berhasil mendata keluarga kami dan jumlahnya ratusan. Karena itu kadang saat kumpul keluarga di lebaran sekalipun, kita hanya bertukar salam dengan beberapa orang saudara sebelum asyik ngobrol dengan saudara-saudara terdekat.
Tapi bukan berarti hubungan kekerabatan kami tidak dekat. Meski bertemu minimal setahun sekali, keakraban itu tetap ada. Mas Jon (alm) bukan sepupu yang ditalikan dengan darah karena Alm adalah anak tiri Bude, tapi dia anggota keluarga dan kami semua bersedih atas kematiannya. Terlebih lagi keluarga inti yang ia tinggalkan masih amat membutuhkan sokongannya.
Hal yang paling aku ingat dari dia adalah sikap menjaga dan melindungi khas seorang kakak saat hampir semua sepupu menginap di vila di Puncak. Sampai kapanpun dia tetap seorang kakak bagiku.
Selamat jalan Mas Jon, semoga diterima di sisi Allah SWT. Kami semua mendoakanmu...
Monday, August 25, 2008
pekerjaan
yang lain menanti. hiks!
kadang bertanya sama diri sendiri, sebenarnya ingin kerja seperti apa?
kerja seperti sekarang seneng juga, tapi ga ketemu banyak orang.
kerja kantoran ketemu banyak orang, tapi ga suka sistem 8-17-nya.
apalagi kalau kantornya jauh, uh... malas!
memang sih, jadi orang susah puasnya. kepingin dapat semuanya.
tapi kalau bisa kenapa nggak?
